Pemuda dan Gadis

August 31, 2008

Sang pemuda berkata kepada sang gadis, “aku ingin bercerita kepadamu tentang seorang pemuda dan batu”

Sang gadis tetap diam.

Sang Pria menatap sang gadis dengan penuh kerinduan, namun disembunyikannya dibalik pandangan sinisnya. Sinis, tapi penuh kerinduan.

Sang pemuda melanjutkan ceritanya :

Alkisah, dulu ada seorang pemuda desa yang percaya bahwa sebongkah batu besar yang berada di luar desa itu bisa bicara. Ya, bicara…

Bukan sekedar bersuara, tapi bicara.

Bagaimana dia bisa yakin bahwa batu itu bisa bicara aku tak tahu.

Yang jelas dia selalu berkata kepada semua orang bahwa batu itu bisa bicara.

Kami penduduk desa awalnya tidak percaya.

Kami selalu menuntut bukti, namun begitu kami semua berada di tempat batu itu berada, batu itu hanya bergeming.

Sang pemuda berusaha membuat batu itu berbicara dengan cara melakukan percakapan kepada batu itu.

Tentu saja bila engkau melihat seseorang berbicara kepada batu yang hanya diam, kau akan mengangap sang pemuda itu gila.

Ya, kami pun begitu.

Awalnya kami hanya menyebutnya seorang pembual, pembohong yang hanya mencari perhatian.

Namun kami melihat ada pancaran kesungguhan dalam dirinya.

Dia tidak berbohong, beberapa dari kami berkata.

Dia kerasukan, ungkap yang lain.

Gila, dia sudah jadi gila, ujar seorang tua.

Kami setuju.

Ya, sang pemuda itu kami anggap gila, walaupun ada sedikit dari kami yang merasa heran dengan keyakinan dan keteguhan sikap sang pemuda.

Dia tetap yakin bahwa batu itu bisa bicara, karena ia pernah mendengarnya langsung.

Hampir setiap hari ia mendatangi batu itu dan mengajaknya berbicara, tapi batu itu tetap seperti batu.

Diam.

Hingga waktu berlalu dan kami bosan dengan ceritanya.

Kami tak peduli dengan kegilaannya.

Kami biarkan ia larut dalam angannya.

Dan ia pun masih tetap pada keyakinannya.

Batu itu bisa bicara.

Batu itu akan bicara.

Pasti.

Batu itu pasti bicara.

Tapi tetap saja, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari batu itu.

Bahkan tidak sedikitpun suara.

Dan kami katakan bahwa ia gila.

Awalnya secara halus.

Kemudian makin lugas.

Bahkan anak-anak kecil pun menertawakannya.

Hingga akhirnya ia menyerah.

Ia menyerah untuk membuat batu itu berbicara.

Dan ia menganggap dirinya sudah gila.

Membuang-buang waktu demi sebuah benda mati yang tidak mungkin berbicara.

Ia menganggap dirinya sudah gila.

Namun justru kami senang melihat ia kembali normal.

Kami senang melihatnya kembali seperti sediakala.

Sampai suatu ketika kami menyadari bahwa ia benar.

Batu itu memang bisa berbicara !!

Kami semua tidak percaya.

Tapi batu itu memang berbicara, kepada semua dari kami.

Sebuah keajaiban.

Batu itu menyatakan kebenaran sang pemuda.

Kami diminta memanggil sang pemuda.

Batu itu berkata akan menghadiahi sang pemuda atas keyakinan dan keteguhannya.

Namun sang pemuda menolak untuk mempercayai

Tidak, katanya.

Kalian hanya mempermainkanku.

Kalian hanya mengolokku.

Kalian hanya ingin mengejekku lagi.

Kalian hanya senang melihatku gila.

Kalian hanya mempermainkanku.

Sang pemuda berteriak dan berlari.

Dia benci dipermainkan.

Para penduduk desa hanya ingin memperoloknya.

Para Penduduk desa pernah merasa dipermainkan olehnya, dan kini ingin membalas.

Ya, sang pemuda yakin itu.

Dia benci para penduduk desa itu.

Dia benci.

Dalam hatinya ia masih percaya bahwa batu itu bisa berbicara.

Dan penduduk desa ingin memperoloknya dengan mengatakan batu itu bisa bicara.

Ya..ya…ya….

Mereka memang senang melihat tingkah orang gila.

Dan aku yakin mereka akan tertawa terbahak-bahak.

Menertawakanku.

Karena aku yakin batu itu bisa bicara.

Memang bisa bicara.

Penduduk desa tidak tahu itu.

Batu itu memang bicara padaku.

Tapi mereka tak akan pernah tahu.

Sang Pemuda mengakhiri ceritanya.

Ia bertanya pada Sang Gadis,”Kau tahu apa arti cerita tadi?”

Sang gadis hanya menggeleng.

“Aku tak peduli” katanya.

Dan kemudian Sang Gadis hanya diam.

Membatu.

=====================================================================

come to me, before it’s to late…

Entry Filed under: aku diriku dan SaintPooney. Tags: .

6 Comments Add your own

  • 1. rerere  |  September 1, 2008 at 4:15 pm

    yeah…
    cepatlah berbicara padanya, sebentar lagi malam takbiran…

    Reply
  • 2. Kepala Besar  |  September 2, 2008 at 7:53 am

    cepatlah bicara, sebentar lagi buka…

    Reply
  • 3. ko2  |  September 4, 2008 at 8:13 am

    turuti apa kata hati lo!!

    Reply
  • 4. Jay  |  September 16, 2008 at 4:54 am

    beghhhh…
    dalemm mang…
    keno telak aq…

    blek blek blek

    Reply
  • 5. faza hekmatyar  |  November 2, 2008 at 8:27 am

    owhhhhh………………………

    Reply
  • 6. rizal f f  |  November 28, 2008 at 7:26 am

    no comment

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

beberapa tanggapan terbaru

zizaw on tentang gw
marycha on Dia mendengar…
letsgetluz on Dia mendengar…
juzztyas on exhaust….
satrio on The Day of Saint Pooney

kate si gori

yang telah lalu

Tags

batman belanda cinta Cristiano Ronaldo demam euro 2008 Fantasy Football film guus hiddink heart Jerman joker mental juara ngambek ngeluh oranje Portugal rusia sakit sepakbola untag yet

Meta

Bloger Negeri Sipil

Blogroll

para dewa

patut dikunjungi